Suasana PKKMB di Universitas Pakuan (16/09/2026)/Beranda Pers/Xezi Artawinata, Abinaya Putra, Alfandi Ilham
Beranda Pers - Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Pakuan yang identik dengan barak dan militeristik, tahun ini berlangsung dengan suasana yang berbeda. Mahasiswa Baru (Maba) terduduk lesehan di lapangan universitas, tanpa melibatkan militer dan digantikan oleh organisasi mahasiswa. Perubahan ini merupakan buah hasil dari aspirasi mahasiswa yang selama ini menolaknya. Di balik perubahan sistem yang perlu diapresiasi, masih ada catatan evaluasi, seperti rundown yang berantakan.
Muhamad Rifki Maulana selaku Ketua Pelaksana PKKMB, mengatakan bahwa konsep tersebut menjadi salah satu perubahan yang cukup signifikan dalam pelaksanaan PKKMB tahun ini, “Dulu kita susah untuk menghilangkan metode PKKMB dalam bentuk militeristik. Tapi pada akhirnya hari ini bisa untuk tidak di barak,” ujar Rifki
Rifki menyebut keputusan tersebut juga berkaitan dengan efisiensi serta aspirasi mahasiswa yang menginginkan PKKMB tanpa pendekatan militeristik. Menurutnya, perubahan tersebut menjadi salah satu bentuk respon terhadap aspirasi mahasiswa dalam pelaksanaan PKKMB.
Selain perubahan konsep, PKKMB ini juga mengangkat tema “Bela Negara” yang dikaitkan dengan perkembangan teknologi dan pembentukan karakter mahasiswa. Tema tersebut dipilih setelah melalui pembahasan panitia dan disesuaikan dengan kondisi mahasiswa di era saat ini.
Menurut Rifki, Maba perlu memiliki pemahaman mengenai perkembangan teknologi sekaligus karakter yang baik dalam menggunakannya. Sebelum kegiatan utama PKKMB berlangsung, panitia mengadakan rangkaian pra-PKKMB. Salah satu kegiatan yang diberikan kepada Maba adalah diskusi mengenai peran mahasiswa.
Materi tersebut diberikan agar Maba memahami fungsi dan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa. Panitia berharap pemahaman tersebut tidak hanya berhenti pada materi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan perkuliahan. Selain diskusi, panitia juga mengadakan kegiatan nonton bareng film “Semakin Ditekan Semakin Melawan".
Menurut Rifki, kegiatan tersebut bertujuan memberikan gambaran kepada Maba mengenai gerakan mahasiswa dan penyampaian aspirasi. Ia mengatakan, pemutaran film tersebut bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai bentuk edukasi agar mereka memahami berbagai situasi yang dapat terjadi ketika mahasiswa menyampaikan aspirasi.
Dalam mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan, panitia memiliki waktu sekitar tiga bulan. Waktu tersebut dinilai cukup singkat karena panitia harus menyesuaikan berbagai kesibukan yang ada di lingkungan Universitas Pakuan.
Selain waktu persiapan yang terbatas, komunikasi antara panitia dan pihak struktural universitas juga menjadi salah satu kendala selama proses persiapan. Kesibukan dosen dan pihak struktural membuat koordinasi tidak selalu dapat dilakukan secara intensif. Akibatnya, beberapa hal yang seharusnya dapat dipersiapkan lebih awal harus dilakukan dalam waktu yang cukup terbatas.
Molornya rundown acara menyebabkan dampak berantai yang berimbas ke Maba, mulai dari Istirahat, Sholat, Makan (ISOMA) dan pulang menjadi terlambat seperti yang dirasakan Aina Maba Fakultas Teknik, “Sejujurnya bikin ga nyaman, waktu yang molor terus membuat waktu istirahat terutama sholat jadi akhir dan mepet banget, saya jadi buru buru, lumayan kerasa capeknya karena jadwalnya jadi berantakan dan ga sesuai sama rundown yang sudah dikasih ke kita,” pungkasnya.
Senada dengan Rama, Zihad, Maba Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISIB) mengatakan, “Saya pribadi dan teman teman maba, hal seperti rundown yang tidak sesuai itu seperti korupsi aja, jikalau emang ingin dirubah harus ada kesepakatan terlebih dahulu dari kami Maba, kami juga cape dari mental dan juga fisik apalagi dengan kita duduk di tanah yang bukan beralaskan,” ucapnya.
Zihad, Maba FISIB, menambahkan apa yang disampaikan Rama, “Tanggapan saya, sedikit kesal karena panitia bekerja tidak sesuai Standard Operating Procedure (SOP) dan membuang-buang waktu dan tidak ada konfirmasi sebelumnya bahwa acara akan ngaret sampe satu jam lebih dan seharusnya kalo acara tersebut sudah tertata dan terstruktur acara tersebut akan sesuai rundown,” ujarnya.
Singgih Irianto, struktural, menjelaskan perihal ketidaksesuaian waktu pada rundown, “Tentang keterlambatan namanya orang banyak 1.600 Maba, untuk mengumpulkan kembali secara bersamaan akan membutuhkan waktu, sebagian ada yang makan, ibadah, dan yang lain-lain. Itu masih batas maklumlah, Rundown urutannya tetap sesui, molor waktu setengah jam, ya itu karena waktu ISOMA yang dimanfaatkan oleh mahasiswa, mahasiswa ngumpul kembali tidak bisa tepat waktu,” jelasnya saat ditemui langsung di ruangannya.
Rifki menjelaskan bahwa keterbatasan waktu menjadi salah satu alasan beberapa persiapan belum dapat dilakukan secara maksimal. “Persiapannya hanya tiga bulan dan cukup mepet. Ada beberapa persiapan yang kurang matang dan itu harus menjadi evaluasi,” jelasnya. Dan ia berharap, “Jika acara ini diadakan lagi di kampus saya harap lebih prepare,” harapnya.
PKKMB tanpa barak akhirnya terwujud di Universitas Pakuan setelah bertahun-tahun menjadi aspirasi, mahasiswa pulang tanpa bentakan, namun masi ada sedikit catatan rundown harus lebih diperhatikan, guna meninggal kesan yang baik untuk mahasiswa baru.
Peliput: Xezi Artawinata, Abinaya Putra, Alfandi Ilham
Penulis: Xezi Artawinata, Alfandi Ilham
Editor: M. Habiby Rahmaddani Harahap

0 Komentar