Merawat Budaya Lembur Sawah di Tengah Arus Modernisasi

 

Kegiatan Bina Desa HIMSINA 2026 di Lembur Sawah (27/08/2026)/Beranda Pers/M Gilar Haekal, Sultan Gibran

Beranda Pers - Di tengah derasnya arus modernisasi, sebuah kampung di Kota Bogor masih menyimpan cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Rumah panggung, tungku untuk memasak, tradisi pertanian, hingga ritual Sedekah Bumi menjadi bagian dari keseharian masyarakat Lembur Sawah. 

Namun, menjaga budaya di tengah perubahan zaman bukan perkara sederhana. Ketika generasi muda semakin dekat dengan kehidupan modern, budaya lokal menghadapi tantangan untuk tetap dikenal, dipahami, dan diteruskan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam program Bina Desa (Bindes) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia (HIMSINA) di Kampung Lembur Sawah, Kota Bogor. Dengan mengusung tema “Pelestarian Aset Budaya”, kegiatan ini tidak hanya mempertemukan mahasiswa dengan masyarakat, tetapi juga membuka ruang untuk mengenalkan kembali potensi budaya yang hidup di tengah kampung.

Ketua Pelaksana Bindes HIMSINA 2026, Zukhruf Zalfa Bahari, mengatakan pemilihan Lembur Sawah didasarkan pada potensi sumber daya manusia dan budaya yang dinilai masih perlu dikembangkan serta diperkenalkan lebih luas. 

Salah satu potensi tersebut adalah Situs Kabayan yang menjadi bagian dari kekayaan sejarah dan budaya Lembur Sawah. Namun, keberadaan aset budaya tidak akan banyak berarti jika informasi mengenai sejarah dan potensinya hanya diketahui oleh sebagian masyarakat.

Karena itu, HIMSINA mencoba membawa cerita Lembur Sawah ke ruang digital melalui pembuatan website Informasi mengenai budaya, sejarah, dan potensi wisata kampung dihimpun agar masyarakat di luar Lembur Sawah dapat mengenalnya tanpa harus bergantung pada cerita dari mulut ke mulut. 

Langkah tersebut menjadi menarik karena pelestarian budaya tidak lagi hanya berbicara mengenai menjaga sesuatu yang lama, tetapi juga mencari cara agar budaya tersebut dapat hidup di tengah kebiasaan baru.

Ketua HIMSINA, Bintang Akmalwa Pamungkas, melihat modernisasi tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan hubungan dengan budaya yang telah diwariskan. Menurutnya, kebiasaan seperti tinggal di rumah panggung maupun memasak menggunakan tungku tidak semestinya selalu dipandang sebagai sesuatu yang tertinggal.

Di balik kebiasaan tersebut terdapat identitas dan cara hidup masyarakat yang justru dapat menjadi kebanggaan, “Anak-anak muda sekarang pasti maunya modernisasi. Kita perlu refleksi ulang dan kembali melihat budaya asli kita,” pungkasnya.

Bagi Bintang, proses Bindes juga tidak hanya berbicara mengenai apa yang dapat diberikan mahasiswa kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa di tengah warga justru menjadi kesempatan untuk belajar memahami kehidupan yang mungkin tidak ditemukan di ruang kelas, “Sebetulnya yang terbina malah kami mahasiswa yang hidup bersama masyarakat dan melihat cara hidup masyarakat. Kalau desanya yang terbina, itu bonus,” ujarnya.

Di sisi lain, masyarakat Lembur Sawah melihat kehadiran mahasiswa sebagai peluang untuk memperkenalkan potensi kampung kepada khalayak yang lebih luas. 

Pengelola Saung Eling, Ahmad Zaelani, mengatakan masyarakat terbantu dengan program yang dilaksanakan HIMSINA, terutama melalui upaya pengenalan potensi budaya dan pengembangan informasi mengenai Lembur Sawah. Ia berharap hubungan tersebut tidak berhenti setelah program Bindes berakhir. Menurutnya, keberlanjutan menjadi hal penting agar upaya yang telah dimulai dapat terus berkembang.

Harapan tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Bogor dalam mengembangkan Lembur Sawah sebagai kampung wisata budaya. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Dian Herdiawan, mengatakan Sawang Eling Lembur Sawah telah ditetapkan sebagai salah satu daya tarik wisata atau kampung tematik wisata di Kota Bogor pada 2026.

Kawasan yang berada di Rukun Warga (RW) 2, Lembur Sawah tersebut dinilai memiliki karakter budaya yang masih kuat. Masyarakatnya masih mempertahankan berbagai tradisi dan adat istiadat Sunda, termasuk tradisi yang berkaitan dengan siklus pertanian. 

Salah satunya adalah Sedekah Bumi yang dilaksanakan setiap 1 Muharam. Tradisi tersebut diisi dengan doa, selawat, pertunjukan seni, hingga makan bersama sebagai bentuk rasa syukur dan kebersamaan masyarakat.

Bagi pemerintah daerah, keberadaan tradisi tersebut bukan hanya menjadi peninggalan masa lalu. Ia juga dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata apabila dikembangkan tanpa menghilangkan nilai yang terkandung di dalamnya. Masyarakat Lembur Sawah bahkan telah membentuk Musyawarah Adat Lembur Sawah sebagai wadah untuk menjaga dan mengembangkan nilai-nilai adat yang ada.

Pengembangan kampung wisata pun dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Sejumlah fasilitas seperti musala, MCK, dan gapura telah dibangun untuk mendukung kenyamanan masyarakat maupun wisatawan. 

Pembinaan sadar wisata dan Sapta Pesona juga dilakukan sebagai bagian dari persiapan pengembangan kawasan. Namun, membangun kampung wisata bukan hanya soal fasilitas. Ketika wisatawan datang untuk melihat sebuah kampung budaya, mereka juga membutuhkan cerita. Mereka membutuhkan orang yang dapat menjelaskan sejarah, tradisi, hingga makna di balik kebiasaan masyarakat. 

Di titik inilah mahasiswa HIMSINA dapat mengambil peran. Dian melihat bidang sastra dan tradisi lisan yang dimiliki mahasiswa HIMSINA dapat dikembangkan untuk membantu masyarakat, mulai dari kemampuan mendongeng, berbicara di depan umum, hingga menjadi pemandu wisata. “Kalau makin banyak wisatawan, perlu ada pemandu untuk susur kampung. Cara menjadi pemandu itu seperti apa, mungkin teman-teman dari HIMSINA bisa membantu ke depannya,” ujarnya.

Pada akhirnya, pelestarian budaya Lembur Sawah tidak cukup hanya dengan menyimpan tradisi agar tidak hilang. Budaya perlu diceritakan, dipahami, dan diberi ruang untuk beradaptasi dengan zaman. 

Situs web yang dibuat HIMSINA menjadi salah satu upaya untuk membawa cerita tersebut ke ruang yang lebih luas. Sementara tradisi yang masih dijalankan masyarakat menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi, masih ada identitas lokal yang terus bertahan.

Bindes pun tidak berhenti sebagai kegiatan mahasiswa selama beberapa waktu. Jika kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah dapat terus dilanjutkan, Lembur Sawah memiliki peluang untuk berkembang bukan hanya sebagai kampung wisata, tetapi sebagai ruang hidup tempat budaya tetap tumbuh dan diwariskan. 

Sebab, melestarikan budaya bukan sekadar mempertahankan apa yang pernah ada. Lebih dari itu, ia adalah tentang memastikan sebuah cerita tetap memiliki tempat untuk diceritakan kepada generasi berikutnya.

Peliput: M. Gilar Haekal, Sultan Gibran
Penulis: M. Gilar Haekal, Sultan Gibran
Editor: M. Habiby Rahmaddani Harahap



Posting Komentar

0 Komentar