![]() |
| Sumber: Dokumentasi Pribadi Reporter Beranda Pers |
Beranda Pers - Konsentrasi Komunikasi Pemasaran Digital (Komsartal) 1, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan, telah sukses menyelenggarakan kegiatan Poetar Balik pada Kamis, 11 Desember 2025. Acara ini digelar di Gedung Graha Pakuan Siliwangi (GPS) lantai 1 pada pukul 11.00–17.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) dan terbuka untuk umum. Poetar Balik turut dimeriahkan oleh deretan guest star, yaitu Tiga Dara, Konsisten, Alfari Nduru, dan Jauza Alya.
Nama “Poetar Balik”, yang terinspirasi dari istilah “putar balik”, mencerminkan konsep utama acara yang mengajak audiens kembali ke suasana era 80–90-an. Pemilihan nama tersebut menggambarkan ajakan untuk memutar kembali kenangan dan gaya hidup tempo dulu dalam balutan nuansa modern yang tetap relevan bagi generasi muda. Melalui acara ini, audiens diajak menelusuri kembali memori masa lampau melalui musik, fashion, hingga kuliner khas yang lekat dengan dua dekade tersebut. Slogan “Biar Jadoel, Asal Gaoel” semakin mempertegas bahwa elemen klasik dapat tetap hidup dalam bentuk yang lebih segar dan kekinian.
Mengusung tema “Pop-Up Retro Experience”, acara ini dirancang sebagai pengalaman langsung yang memadukan unsur budaya dan hiburan masa lalu dalam format pop-up event. Dengan konsep tersebut, Poetar Balik tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga sebuah perjalanan budaya yang mengajak audiens merasakan kembali energi, kreativitas, dan kehangatan budaya populer masa lampau yang dikemas secara modern dan penuh karakter.
Ibnu Sina selaku ketua pelaksana Poetar Balik menjelaskan, “Kami punya satu sesi penting, yaitu keliling tenant. Semua tenant dirancang dengan nuansa jadul, mulai dari makanan, pakaian, hingga photo booth bernuansa retro. Di akhir acara juga akan ada karaoke lagu-lagu jadul bersama Tiga Dara. Selain itu, kami juga menghadirkan beberapa guest star.”
Dalam cerita persiapannya, Ibnu menyampaikan bahwa acara ini dipersiapkan selama kurang lebih dua bulan. Sejak awal panitia dibentuk, mereka menentukan konsep, lalu menyusun timeline agar alur kerja lebih terarah. Tantangan pertama yang mereka hadapi adalah menentukan konsep, karena ide bertema nostalgia sudah cukup sering digunakan oleh kelas lain. Namun, panitia berusaha menghadirkan versi yang berbeda dan khas dari kelas mereka sendiri.
Tantangan berikutnya datang dari internal panitia. Ibnu menyebutkan bahwa anggota panitia tidak hanya mengerjakan event ini, tetapi juga menghadapi tugas kuliah lainnya. Selain itu, waktu persiapan yang terbilang singkat membuat mereka harus bekerja ekstra agar acara tetap memberikan experience yang maksimal dan memorable bagi pengunjung.
Valianty Sariswati, M.I. Kom., selaku dosen pembimbing mata kuliah Manajemen Ajang Khusus, turut memberikan pandangannya mengenai kegiatan Poetar Balik. Ia menjelaskan, “Nuansa era 80–90-an di acara ini kerasa banget. Anak-anak generasi 80-an pasti langsung nostalgia. Mulai dari musiknya, lalu makanan yang dijual juga mendukung suasananya, karena semua elemennya relate dengan konsep throwback.”
Selain itu, Valianty juga menyoroti pemilihan tenant yang dinilai sangat tepat. “UMKM yang dipilih itu serabi, ada cendil-cendil, terus di dalam juga ada snack-snack zaman dulu. Mainan jadulnya pun ada, bahkan ada thrifting. Jadi, semua elemen pendukungnya benar-benar disiapkan sesuai nama dan konsepnya,” ujarnya.
Valianty menambahkan bahwa setiap event memiliki kesamaan, tetapi masing-masing tetap memiliki pembeda dari sisi sasaran dan target audiens. Ia membandingkannya dengan event sebelumnya berjudul Time Capsule yang ditujukan untuk anak-anak sekolah. Karena mereka belum pernah merasakan budaya permainan era 80–90-an, acara tersebut lebih berfokus pada keseruan dan edukasi nostalgia. Sementara itu, Poetar Balik ditujukan untuk mahasiswa dan pengunjung yang pernah hidup di era tersebut, termasuk dirinya dan beberapa dosen lain. “Jadi, feel throwback-nya lebih kena, karena kami benar-benar tahu seperti apa gaya ‘gaul’ di masa itu,” jelas Valianty.
Acara ini meninggalkan kesan tersendiri bagi sebagian audiens, termasuk Safira, mahasiswa dari konsentrasi Hubungan Masyarakat (humas) 6. “Alasan utama aku ikut kegiatan ini karena temanya menarik banget. Konsepnya tempo dulu, jadi aku langsung tertarik, apalagi aku datang bareng pacar aku. Lalu yang membedakan acara ini sama yang lain, biasanya konsepnya mengikuti tren modern. Nah, Poetar Balik ini justru beda karena mengangkat tema tempo dulu yang bikin kita nostalgia. Buat anak muda kayak kita, itu jadi pengalaman yang unik banget,” ujar Safira.
Sebagai penutup, Valianty, menyampaikan kesan dan pesannya terhadap penyelenggaraan Poetar Balik. Ia menekankan bahwa proses adalah hal yang sangat berharga dalam sebuah proyek. Melalui event ini, ia berharap para mahasiswa memperoleh pengalaman nyata mulai dari mengonsepkan acara, menurunkan ide menjadi tema, menentukan sasaran, menetapkan target, hingga memahami keseluruhan proses penyelenggaraan sebuah event. Menurutnya, Poetar Balik tidak hanya menjadi ajang untuk memenuhi tugas mata kuliah, tetapi juga dapat menjadi bekal ketika mahasiswa terjun ke industri. “Harapannya, mereka bisa punya portofolio dan berkata, ‘Saya pernah membuat event seperti ini dan itu berhasil.’. Itu yang benar-benar saya inginkan,” tutupnya.
Peliput: Shallima Mirra Faiza, Rahma Trianasari
Penulis: Shallima Mirra Faiza
Editor: Rahma Trianasari

0 Komentar