Polemik Sistem Biaya Kuliah Tunggal Terus Bergulir, Mahasiswa Angkatan 2025 Melakukan Aksi di Depan Gedung Rektorat

 

Polemik Sistem Biaya Kuliah Tunggal Terus Bergulir, Mahasiswa Angkatan 2025 Melakukan Aksi di Depan Gedung Rektorat

Beranda Pers - Ketegangan sempat mewarnai audiensi antara perwakilan mahasiswa angkatan 2025 dengan jajaran Rektorat Universitas Pakuan (Unpak), Senin, 19 Januari 2026. Pertemuan tersebut membahas polemik besaran Biaya Kuliah Tunggal (BKT) Angkatan 2025 yang dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan angkatan sebelumnya maupun angkatan baru yang akan datang. Tak sampai di situ saja, setelah menemui kebuntuan pada audiensi pertama, mahasiswa angkatan 2025 bersama kelembagaan mahasiswa melakukan aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih masif pada Jumat, 23 Januari 2026.

"Ini tidak sesuai. Mahasiswa tahun 2026 diturunkan, sedangkan kami tetap membayar mahal. Apa yang kami dapat seharga itu? Fasilitas kami kurang, kursi reyot, lift mati sehingga harus naik tangga ke lantai 7, dan perpustakaan tutup jam 3 sore," ujar salah satu perwakilan mahasiswa dalam rekaman audiensi. Mahasiswa menilai tingginya biaya tidak sebanding dengan fasilitas dan kualitas akademik yang diterima, termasuk sulitnya menemui dosen serta minimnya transparansi alokasi dana.

Zahra Azka Maritza Wijaya, yang merupakan mahasiswa angkatan 2025 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) turut berkomentar, ”Pertama-tama kami dari angkatan 2025, pembayaran saja itu udah di atas 8-10 juta, lalu kemudian kami mendapatkan poster informasi dimana gelombang selanjutnya atau adik tingkat kami itu lebih murah dibandingkan dengan angkatan kami. Dengan uang sebanyak itu kenapa fasilitasnya tidak bisa diupgrade untuk jauh lebih baik?” ucapnya saat ditemui di lokasi.

Begitupun dengan Dewanti Endah, mahasiswi program studi Sastra Inggris yang mengeluhkan soal BKT tersebut, ”Soalnya kita juga paling mahal ya, dan untuk fasilitas kita ga dapet privilege itu, jadi kita kayak sama rata sama yang biayanya dibawah kita. Dari segi fasilitas, mau ngomong 13 juta juga pengajarannya mungkin lebih bagus atau gimana, tapi yaudah sama aja sama yang bayarnya lebih murah, jadi buat fasilitas itu gak worth it banget yaa 13 juta.”

Aksi pembakaran ban mewarnai polemik tuntutan BKT (23/01/2026)/Beranda Pers/Yasinta Saumarisa

Ditemui di depan gedung rektorat pada Jumat, Tryan Nugraha, dosen yang mengajar di FISIB memberikan tanggapannya mengenai aksi tersebut yang menurutnya dinilai organik, ”Ini aksi organik yaa, kalau kita bicara FISIB ini perdana, tidak ada campur tangan manapun, jadi memang hipotesis saya sih memang ini gerakan ada atas dasar kesadaran angkatan 2025 yang dicoba difasilitasi sama anak-anak lembaga,” ujarnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Rektor Unpak menjelaskan bahwa kebijakan biaya pada tahun 2025 merupakan langkah darurat demi keberlangsungan institusi. Rektorat mengungkapkan bahwa penyesuaian biaya diperlukan untuk menjaga arus agar kampus tetap dapat menjalankan operasionalnya.

Pihak Rektorat menambahkan bahwa kestabilan biaya merupakan bagian dari manajemen lembaga pendidikan swasta dalam merespons kebutuhan operasional yang dinamis. Terkait penurunan biaya untuk Angkatan 2026, hal tersebut dimungkinkan setelah kampus melakukan efisiensi struktural dan penghematan beban operasional.

Suasana audiensi sempat memuncak ketika terjadi perselisihan verbal yang cukup tajam antara mahasiswa dengan pihak rektorat. Salah satu asisten rektorat bereaksi dengan nada tinggi dan keras hingga melontarkan komentar bernada personal saat merespons pernyataan salah satu mahasiswi. “Jangan muter-muter begitu. Apalagi kalau perempuan kayak begitu, hati-hati," ucap pihak rektorat. Pernyataan ini sempat memicu reaksi riuh dari mahasiswa yang hadir karena dinilai tidak relevan dengan substansi pembahasan biaya pendidikan.

Dalam pertemuan yang berlangsung panas tersebut, pihak Rektorat menegaskan tidak dapat menurunkan biaya bagi Angkatan 2025 karena dana sudah dialokasikan untuk operasional institusi. Sebagai gantinya, Rektorat menawarkan beberapa opsi:
  1. Fasilitas Cicilan: Mahasiswa diperbolehkan mencicil biaya semester hingga enam kali.
  2. Pindah Fakultas/Prodi: Mahasiswa diizinkan pindah ke program studi lain di lingkungan Unpak yang memiliki biaya lebih rendah.
  3. Daftar Ulang: Mahasiswa diperbolehkan mendaftar kembali sebagai mahasiswa baru Angkatan 2026 untuk mendapatkan tarif yang lebih murah  
  4. Pindah Kampus: Jika tidak sepakat dengan kebijakan tersebut, Rektorat mempersilakan mahasiswa untuk pindah ke universitas lain.
Berbagai tawaran tersebut memicu kekecewaan mendalam dari pihak mahasiswa yang menilai langkah-langkah itu tidak bijak dan gagal mencerminkan keadilan bagi Angkatan 2025. Mahasiswa tetap bersikukuh menuntut hak yang sebanding dengan biaya mahal yang telah mereka bayarkan. 

Menanggapi hal tersebut, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIB, Putra Yassa Galuh mengatakan bahwasanya pihak rektorat harus memberikan solusi yang konkret mengenai BKT, ”Sebenarnya, sih, tadi ketika rektor itu keluar, rektor itu gak mengindahkan tuntutan kita sebenarnya. Malah memberikan solusi-solusi yang bias lah. Menurut kami, pernyataan-pernyataan yang rektor itu gaungkan bukan sebuah solusi, tapi obat penenang saja.
 
Maka dari itu solusi dari kelembagaan dan mahasiswa 2025 sebenarnya ingin menyelaraskan biaya kuliah tunggal di angkatan 2026, karena ini merupakan sebuah hal yang timpang kejam menurut pandangan saya. Jadi, menurut saya hal-hal yang harus dilakukan oleh rektorat adalah memberikan solusi yang konkret mengenai BKT, solusinya apa? Diselaraskan saja hal-hal yang sudah dilakukan sama Rektorat,” jelas Putra.

Hingga audiensi berakhir, belum ada titik temu yang memuaskan kedua belah pihak. Mahasiswa Angkatan 2025 merasa diberatkan oleh kebijakan tersebut, sementara pihak kampus bersikukuh langkah itu diambil demi menyelamatkan stabilitas institusi.

Peliput: M. Adzani Arieful Fattah, Siska Julianti, Yasinta Saumarisa
Penulis: M. Adzani Arieful Fattah, Yasinta Saumarisa
Editor: Intan Dwi Sasmita 

Posting Komentar

0 Komentar