Aksi Mahasiswa di Tugu Kujang Bogor: Suarakan 8 Tuntutan, Warga Sekitar Beri Beragam Tanggapan

 

Suasana aksi demo Reformasi Polri dengan menyatakan sikap oleh para mahasiswa Universitas Pakuan pada Senin, (9/3/2026)


Beranda Pers - Puluhan mahasiswa Universitas Pakuan yang tergabung dalam keluarga besar mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di Tugu Kujang, Kota Bogor, pada Minggu sore sekitar pukul 16.00 WIB. Aksi yang dipimpin oleh presiden mahasiswa yang baru terpilih, Galuh Maulana, ini dilakukan untuk menyampaikan delapan tuntutan kepada pemerintah terkait berbagai persoalan kebijakan dan kondisi sosial di Indonesia. Demonstrasi tersebut dilaksanakan dengan mengumpulkan massa sejak pukul 13.00 WIB sebelum bergerak menuju titik aksi, serta turut menarik perhatian warga yang berada di sekitar lokasi.

Galuh Maulana menjelaskan bahwa massa aksi sebelumnya telah melakukan seruan untuk berkumpul sejak pukul 13.00 WIB. Namun, keberangkatan menuju titik aksi baru dimulai sekitar pukul 16.00 WIB.

Menurut Galuh, aksi tersebut membawa delapan tuntutan utama yang menjadi pernyataan sikap mahasiswa Universitas Pakuan. Beberapa di antaranya adalah mengecam tindakan represif aparat terhadap masyarakat sipil dan peserta aksi, menolak pasal-pasal bermasalah dalam RUU Polri yang dianggap berpotensi memperluas kewenangan represif aparat, serta menolak masuknya institusi TNI dan Polri ke ranah sipil karena dinilai dapat mengancam supremasi masyarakat sipil.

Selain itu, mahasiswa juga mendesak Kapolri Listyo Sigit Prabowo untuk mundur dari jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab atas berbagai tindakan represif yang terjadi. Mahasiswa juga menuntut pembebasan tahanan politik, penghentian berbagai bentuk intimidasi terhadap gerakan rakyat dan mahasiswa, serta meminta pemerintah lebih memprioritaskan anggaran untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam tuntutan lainnya, mahasiswa juga mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan sejumlah undang-undang yang dianggap berpihak pada rakyat, seperti Undang-Undang Perampasan Aset, perlindungan pekerja rumah tangga, hingga regulasi yang memberikan perlindungan lebih baik bagi masyarakat.

Galuh menjelaskan bahwa pemilihan Tugu Kujang sebagai titik aksi bukan tanpa alasan. Menurutnya, lokasi tersebut merupakan ruang publik yang menjadi pusat lalu lintas masyarakat di Kota Bogor. “Tugu Kujang adalah public space Kota Bogor. Dari berbagai arah jalan akhirnya bertemu di sini. Selain itu, lokasinya juga dekat dengan kampus Pakuan sehingga mudah dijangkau oleh mahasiswa,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pihak penyelenggara telah memberikan pemberitahuan kepada kepolisian sebelum aksi berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Lebih lanjut, Galuh mengatakan tujuan utama demonstrasi ini adalah untuk menyuarakan keresahan masyarakat sekaligus memberikan masukan kepada pemerintah mengenai berbagai persoalan yang sedang terjadi di negara ini. “Selain menyampaikan kritik, kami juga ingin memberikan solusi terhadap kebijakan yang menurut kami perlu diperbaiki,” katanya.

Ia menegaskan bahwa jika tuntutan mahasiswa tidak mendapat respons dari pemerintah, maka gerakan tersebut berpotensi berlanjut dengan aksi yang lebih besar, bahkan hingga ke tingkat nasional. “Kami bisa melakukan aksi yang lebih besar lagi dan menyurati DPR RI serta Presiden secara langsung jika tuntutan ini tidak ditanggapi,” jelasnya.

Aksi demonstrasi yang berlangsung di sekitar Tugu Kujang juga menarik perhatian warga yang berada di lokasi tersebut. Ridwan, seorang petugas keamanan di Hotel Amaroossa Royal Bogor yang berada tidak jauh dari lokasi aksi mengatakan, bahwa ia mengetahui adanya demonstrasi sejak mahasiswa mulai berdatangan sekitar pukul 16.00 WIB.

Menurutnya, aksi demonstrasi merupakan hak setiap mahasiswa selama dilakukan secara tertib. “Pendapat saya itu hak mahasiswa saja. Yang penting tidak arogan dan tetap disiplin, serta tidak mengganggu aktivitas di sekitar,” ujarnya.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Jeremy, seorang warga yang sedang berolahraga di sekitar kawasan Tugu Kujang. Ia mengaku mendukung aksi demonstrasi karena menjadi salah satu cara masyarakat menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.

Namun demikian, ia berharap aksi tersebut tidak menimbulkan kemacetan atau mengganggu pengguna jalan. “Saya mendukung saja, tapi jangan sampai menutup jalan atau menyebabkan kemacetan karena bisa merugikan orang lain,” katanya.

Sementara itu, Dedi, seorang penjual asongan yang berada di sekitar lokasi aksi, mengaku baru mengetahui adanya demonstrasi saat melihat keramaian di area tersebut. Meski begitu, ia mengaku tidak merasa terganggu dengan adanya aksi tersebut dan bahkan menyambut keramaian yang terjadi. “Senang saja, jadi ramai,” katanya singkat.

Aksi demonstrasi mahasiswa di Tugu Kujang Bogor menunjukkan bagaimana mahasiswa masih berperan aktif dalam menyuarakan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Di sisi lain, warga sekitar umumnya menghargai aksi tersebut selama dilakukan dengan tertib dan tidak mengganggu aktivitas publik.



Peliput: Alfandi Ilham, Muhammad Habiby R.H

Penulis: Muhammad Habiby R.H

Editor: Rahma Trianasari 

Posting Komentar

0 Komentar