TracksTwo 2026: Menghubungkan Musik, Cerita, dan Kreativitas Mahasiswa dalam Siaran Multiplatform

 

Suasana siaran TracksTwo di Studio Swara Pakuan, Universitas Pakuan pada (22/06/2026)/Beranda Pers/Muhammad Rizal Pratama Morales, Abinaya Putra Hasbullah

Beranda Pers – Mahasiswa Program Studi Televisi, Radio dan Media Baru (TRMB) 2, Universitas Pakuan sukses menyelenggarakan program Multiplatform 2026 bertajuk TracksTwo pada Senin, 22 Juni 2026, di Studio Radio Swara Pakuan, Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB). Dengan mengusung slogan “Your Track, Your Story” yang dimulai pukul 13.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), program ini menghadirkan konsep siaran multiplatform berbasis musik yang disiarkan melalui berbagai media digital dan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menggabungkan konsep penyiaran radio dengan berbagai platform digital sekaligus, sehingga mampu menjangkau audiens yang lebih luas.

Executive Producer TracksTwo 2026, Azka Nauval, menjelaskan bahwa konsep musik dipilih sebagai upaya menghadirkan nuansa baru dibandingkan pelaksanaan Multiplatform pada tahun-tahun sebelumnya yang lebih berfokus pada penyiaran radio konvensional. Menurutnya, tema tersebut juga selaras dengan latar belakang narasumber utama yang dihadirkan dalam acara tersebut. “Multiplatform tahun ini live di berbagai platform seperti YouTube Suara Pakuan dan TikTok. Kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda, sehingga memilih tema musik sebagai fokus utama program,” ujar Azka. 

Slogan “Your Track, Your Story” yang digunakan memiliki makna bahwa setiap lagu menyimpan cerita yang berbeda bagi setiap orang. Musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mampu menjadi media untuk mengingat pengalaman, perasaan, hingga perjalanan hidup seseorang. “Setiap lagu punya makna dan kisahnya sendiri yang bisa terhubung dengan pengalaman pribadi para pendengarnya,” jelasnya.

TracksTwo menghadirkan Pandu Fuzztoni, gitaris band Morfem. Kehadiran Pandu dipilih bukan hanya karena namanya yang dikenal di kalangan penikmat musik independen Indonesia, tetapi juga karena pengalamannya yang panjang dalam industri musik.
Azka mengungkapkan bahwa sebelum menentukan Pandu, tim produksi sempat mempertimbangkan beberapa nama musisi lainnya. Namun, setelah mempertimbangkan berbagai aspek seperti kesesuaian tema, pengalaman dan kebutuhan acara, Pandu dinilai menjadi pilihan yang paling tepat. “Pandu sudah lama berkecimpung di dunia musik. Selain itu, dia juga terlibat dalam beberapa proyek band yang berbeda sehingga banyak pengalaman yang bisa dibagikan kepada mahasiswa,” ujarnya.

Di sisi akademik, dosen praktisi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pakuan, Mey Cresentya Rahail, menjelaskan bahwa Multiplatform merupakan proyek akhir mahasiswa TRMB yang telah menjadi agenda rutin selama lima tahun terakhir. Menurutnya, kegiatan ini dirancang untuk menjembatani teori yang dipelajari di ruang kelas dengan praktik langsung di lapangan. “Mahasiswa tidak hanya belajar menjadi penyiar. Mereka juga berperan sebagai reporter, produser, penulis berita, pembuat konten visual, hingga moderator. Semua pengalaman itu menjadi bekal yang sangat penting ketika mereka memasuki dunia kerja,” jelasnya.

Menurutnya, mahasiswa TRMB telah menunjukkan kesiapan yang baik dalam menghadapi tantangan proyek. Berbagai revisi dan evaluasi yang diberikan selama proses produksi mampu dijalankan dengan baik oleh seluruh tim. “Mereka sangat siap dan tangguh. Berapa kali pun revisi diberikan, mereka tetap menjalankannya dengan baik. Itu menunjukkan komitmen mereka terhadap proyek ini,” ungkapnya.

Dalam sesi wawancara, Pandu Fuzztoni berbagi pandangannya mengenai perjalanan bermusik. Ia menilai bahwa menjadi musisi tidak hanya soal kemampuan memainkan alat musik, tetapi juga kemampuan membangun relasi dan memperluas jaringan.“Jadi seorang musisi tidak harus hanya pandai bermain musik, tapi juga harus banyak berkomunikasi, banyak eksplorasi, dan yang paling penting konsisten,” ungkap Pandu. 

Saat ditanya mengenai lagu yang paling berkesan dalam perjalanan kariernya, Pandu menyebut lagu Jungkir Balik sebagai salah satu karya yang memiliki makna mendalam, karena merepresentasikan perjuangan panjang yang telah dilalui. 

Terkait perkembangan musik di era digital, Pandu berpesan kepada musisi muda agar tidak terjebak pada tuntutan untuk selalu relevan mengikuti tren. Menurutnya, yang terpenting adalah menemukan identitas bermusik sendiri dan tetap nyaman dengan karya yang diciptakan. “Jangan menyerah dan temukan identitas musikmu sendiri. Yang penting nyaman dengan karya yang dibuat, karena relevansi itu tidak bisa ditebak,” pesannya.

Melalui TracksTwo 2026, mahasiswa TRMB menunjukkan bahwa media radio dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan era digital. Tidak hanya menjadi ruang hiburan, program ini juga menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, kemampuan komunikasi, serta keterampilan produksi media lintas platform yang semakin dibutuhkan di industri saat ini.

Peliput: Muhammad Rizal Pratama Morales, Abinaya Putra Hasbullah 
Penulis: Muhammad Rizal Pratama Morales
Editor: M. Habiby Rahmaddani Harahap


Posting Komentar

0 Komentar