Suasana Aksi Kamisan Tugu Kujang Kota Bogor (09/07/2026)/Beranda Pers/Alfandi Ilham, M. Fatir Rahman
Beranda Pers – Kamis, 9 Juli 2026 Aksi Kamisan kembali digelar di Tugu Kujang, Kota Bogor, setelah sudah lama tidak diselenggarakan. Aksi yang diinisiasi oleh berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa dalam sebuah gerakan kolektif ini berlangsung pukul 16.00–18.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Dengan mengenakan pakaian serba hitam dan membawa payung hitam sebagai simbol duka sekaligus perlawanan. Aksi ini membawa isu tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Polisi Negara Republik Indonesia (Polri) yang telah resmi disahkan menjadi undang-undang.
Putra, selaku Koordinator Lapangan menjelaskan, “Persoalan Polri, karna pasca kejadian Agustus kemarin demo itu kan memang masyarakat meminta bahwasanya, adanya reformasi Polri karena beberapa unsur yang memang pada akhirnya harus direformasi untuk instansi tersebut, tapi kenyataannya adalah per hingga hari ini reformasi Polri tidak disahkan,” ucapnya.
Ia menambahkan, “Saya melihat di Instagram Tempo dan lain-lain media lain itu memberitakan pengesahan RUU Polri yang di mana Polri ini tuh bisa merekap di jabatan sipil, batas usaha pensiun bisa diperpanjang, polisi boleh duduki jabatan sipil dan penguatan kelembagaan,” tambahnya. Yang mana tidak sesuai dengan reformasi yang sudah dijanjikan saat demo Agustus 2025 kemarin.
Irsyad, peserta aksi menanggapi perihal pengesahan RUU Polri, “Sebenarnya sangat ironi ya, kita tidak bisa liat reformasi Polri bisa dibilang dibuat secara serampangan, juga itu tidak berguna bagi masyarakat,” ucapnya, selaras dengan Putra, “Sebenarnya saya pribadi sangat kecewa sekali kenapa pada akhirnya RUU Polri ini itu disahkan dan merugikan masyarakat, yang memang seharusnya direformasi tetapi ternyata tidak hingga hari ini,” pungkasnya.
Aksi ini menjadi ajang refleksi masyarakat Kota Bogor, dengan mencurahkan keresahannya dan kekecewaan sekaligus kepedulian terhadap negara, dengan berorasi dan berpuisi. Sesuai ucapan Irsyad, “Tentunya ini menjadi bahan sebagai refleksi bagi kita masyarakat dan bentuk kepedulian saya dan kawan-kawan, terhadap negara dan menjadi wadah untuk masyarakat yang ingin menyampaikan keluh kesahnya sebagai warga Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan alasan mengapa mengikuti Kamisan, “Karena saya melihat dari beberapa fenomena, yang saya lihat itu kenapa Indonesia masih gelap ya, seperti yang tadi diorasikan oleh seorang masyarakat, bilang selamat malam padahal di sore hari, saya bisa tahu dan menyimpulkan memang Indonesia masih gelap, tidak terang karena memang dari regulasi, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), juga negara maupun presiden masih belum bisa mengayomi masyarakat,” jelasnya.
Tak lupa Putra menambahkan harapannya untuk Aksi Kamisan ke depannya, “Harapan saya teman-teman hingga hari ini masih komitmen untuk ikut dan berpartisipasi dalam Aksi Kamisan Bogor, saya sangat berharap tidak cuma orang yang itu-itu saja yang ikut berpartisipasi, saya berharap sih masyarakat lebih peduli sekitar, walaupun kenyataannya mereka tidak terdampak dan semoga Aksi Kamisan Bogor itu terus berjalan hingga tuntut tuntutan yang kita suarakan akhirnya terjawab oleh pemerintah itu sendiri,” harapnya untuk Kamisan Bogor.
Peserta yang hadir pada Aksi Kamisan sebagian besar berangkat dari keresahan dan kepedulian terhadap negara dan sesama manusia, Aksi Kamisan hadir menjadi ajang refleksi dan tempat masyarakat berkeluh kesah melalui orasi dan puisi, sebagai bentuk kekecewaan terhadap institusi negara, dengan menggunakan atribut serba hitam yang menjadi simbol duka dan perlawanan.
Peliput: Alfandi Ilham, M. Fatir Rahman
Penulis: Alfandi Ilham
Editor: Bunga Vania

0 Komentar