Sumber: Dokumentasi Pribadi Beranda Pers
Beranda Pers - Kamis, 4 Juni 2026 Komisi Pemilihan Umum (KPU) Fakultas Ilmu Sosial Budaya (FISIB) secara resmi menyelenggarakan Debat Terbuka Calon Ketua dan Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi sebagai bagian dari rangkaian Pemilihan Raya (Pemira) yang digelar di Pelataran FISIB Universitas Pakuan. Kegiatan ini bertujuan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenal visi, misi, serta gagasan para kandidat sebelum pelaksanaan pemungutan suara yang berlangsung pada 8 Juni 2026 secara daring.
Ketua KPU FISIB, Moreno Valendra menjelaskan bahwa penyelenggaraan debat terbuka menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam Pemira sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menilai secara langsung kapasitas para calon pemimpin organisasi. Menurutnya, proses pemilihan tahun ini juga diarahkan untuk mempercepat regenerasi kepemimpinan organisasi mahasiswa yang sempat mengalami keterlambatan. “Fokus utama kami tahun ini adalah regenerasi. Bagaimana proses pergantian kepengurusan dan calon-calon pemimpin berikutnya bisa segera terselesaikan dengan baik. Debat terbuka ini juga menjadi salah satu cara untuk menarik minat mahasiswa agar lebih mengenal kandidat yang akan mereka pilih,” ujar Moreno.
Keterlambatan regenerasi yang terjadi sebelumnya tidak hanya berdampak pada jalannya organisasi, tetapi juga berpengaruh terhadap tingkat partisipasi mahasiswa. Moreno menilai kondisi tersebut membuat sebagian mahasiswa merasa jenuh terhadap proses Pemira yang berlangsung lebih lambat dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Dalam proses persiapannya, KPU juga mempertimbangkan berbagai mekanisme pemungutan suara, mulai dari penggunaan surat suara hingga formulir daring. Pada akhirnya, sistem pemungutan suara secara online dipilih karena dinilai lebih efektif dan dapat mempermudah partisipasi mahasiswa dalam memberikan hak pilihnya. “Kalau berbicara soal efektivitas, penggunaan formulir daring memang lebih mempersingkat waktu dan memudahkan proses pemungutan suara. Namun yang terpenting bagi kami adalah memastikan seluruh tahapan berjalan dengan baik dan partisipasi mahasiswa tetap terjaga,” jelasnya.
Dosen Ilmu Komunikasi, Tryan Nugraha menilai bahwa antusiasme mahasiswa yang hadir dalam debat terbuka cukup baik. Menurutnya, kehadiran mahasiswa menunjukkan adanya rasa ingin tahu terhadap calon pemimpin yang akan memimpin organisasi mahasiswa ke depan. “Mahasiswa yang hadir hari ini ingin melihat bagaimana calon pemimpin himpunan yang baru. Debat terbuka seperti ini sangat baik karena membuat proses pemilihan menjadi lebih transparan dan mahasiswa dapat mengetahui gagasan serta kemampuan para kandidat,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai partisipasi mahasiswa dalam demokrasi kampus masih perlu ditingkatkan. Salah satu penyebabnya adalah perubahan pola pikir mahasiswa di era media sosial yang membuat mereka lebih kritis, tetapi juga lebih skeptis terhadap organisasi. Selain itu, Tryan menyoroti pentingnya peran mahasiswa senior dalam proses regenerasi organisasi. “Mahasiswa senior memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan contoh dan membangun budaya organisasi yang positif. Regenerasi yang baik akan membuat mahasiswa baru lebih tertarik untuk berpartisipasi,” jelasnya.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Nur Aulia dan Siska mengaku akan menggunakan hak pilih mereka dalam Pemira tahun ini. Menurut Aulia, Pemira merupakan agenda penting karena menentukan siapa yang akan menjadi perwakilan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi kepada pihak organisasi maupun fakultas. “Menurut saya Pemira itu penting karena kita memilih orang yang nantinya akan menjadi jembatan antara mahasiswa dengan pihak himpunan. Pemimpin yang terpilih tentu akan berpengaruh terhadap perkembangan mahasiswa Ilmu Komunikasi kedepannya,” ungkap Aulia.
Sementara itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi lainnya, Lambertus Sadewo menilai bahwa penyebaran informasi mengenai Pemira tahun ini masih kurang maksimal. Menurutnya, pemberitahuan kegiatan seperti debat terbuka dan agenda lainnya disampaikan dalam waktu yang relatif singkat sehingga tidak semua mahasiswa dapat mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Meski demikian, Lambertus tetap berencana menggunakan hak pilihnya karena ingin turut menentukan pemimpin yang akan mewakili mahasiswa Ilmu Komunikasi. Ia juga menilai bahwa ketua himpunan memiliki peran penting dalam menentukan arah organisasi, budaya, serta berbagai program yang akan dijalankan ke depan.
Dalam memilih calon, Lambertus mengaku lebih memperhatikan visi dan misi serta berusaha berdiskusi langsung dengan pasangan calon. Ia berharap pada penyelenggaraan Pemira berikutnya, informasi mengenai tahapan pemilihan dapat disampaikan lebih awal dan ruang dialog antara mahasiswa dengan kandidat dapat diperbanyak agar mahasiswa lebih mengenal calon pemimpin yang akan dipilih.
Disisi lain, Moreno mengakui bahwa keterlambatan pelaksanaan Pemira menjadi tantangan tersendiri bagi KPU dalam menjaga antusiasme mahasiswa. Ia mengatakan bahwa pihaknya berupaya menyusun tahapan pemilihan secara lebih terstruktur dibandingkan tahun sebelumnya agar proses demokrasi kampus dapat berjalan lebih baik. “Evaluasi dari tahun sebelumnya adalah bagaimana penyelenggaraan Pemira harus lebih terstruktur dan matang. Karena itu kami berusaha mempersiapkan setiap tahapan dengan lebih baik agar mahasiswa juga dapat mengikuti prosesnya dengan nyaman,” pungkasnya.
Peliput: Abinaya Putra Hasbullah, Muhammad Rizky Febrianatullah
Penulis: Abinaya Putra Hasbullah
Editor: M. Habiby Rahmaddani H

0 Komentar