Banner Aksi Kamisan Bogor Sebagai Simbol Aksi Damai Setiap Kamis Sore
Beranda Pers - Di tengah berbagai isu yang silih berganti dan menjadi perhatian publik, sekelompok warga masih memilih meluangkan waktu setiap Kamis sore untuk berdiri di sekitar Tugu Kujang, Kota Bogor. Mereka bukan sekedar berkumpul, melainkan membawa satu tujuan yang sama yakni menjaga ingatan atas berbagai persoalan yang dinilai belum menemukan keadilan.
Setelah sempat vakum selama beberapa tahun, Aksi Kamisan Bogor kembali digelar secara rutin sejak Juni 2025. Aksi ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan berbagai persoalan, mulai dari pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), konflik agraria, hingga isu-isu kebijakan publik yang dinilai berdampak terhadap kehidupan masyarakat.
Koordinator Aksi Kamisan Bogor, Cahaya Putra Rangkuti, mengatakan masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman keliru mengenai Kamisan. Menurutnya, tidak sedikit orang yang menganggap Kamisan sama seperti aksi demonstrasi pada umumnya, padahal keduanya memiliki pendekatan yang berbeda. "Kamisan merupakan aksi damai. Kami tidak melakukan pergulatan seperti aksi massa pada umumnya. Di sini kami lebih banyak melakukan refleksi, mendengarkan orasi, dan mengingat berbagai persoalan yang terjadi di negara ini," ujar Putra.
Ia menjelaskan, tujuan utama Kamisan bukan sekadar menyampaikan kritik kepada pemerintah, melainkan menjaga ingatan publik terhadap berbagai kasus yang hingga kini belum memperoleh penyelesaian. Bagi para peserta, aksi tersebut menjadi bentuk solidaritas terhadap para korban dan keluarga korban yang masih memperjuangkan keadilan. "Makna Kamisan bagi saya adalah merawat ingatan dan menolak lupa. Banyak korban yang sampai hari ini masih mencari keadilan. Mereka terus menyuarakan apa yang mereka alami, sementara masyarakat perlahan mulai melupakannya," katanya.
Warna hitam yang identik dengan Aksi Kamisan juga memiliki makna tersendiri. Putra mengatakan bahwa warna tersebut dipilih sebagai simbol duka sekaligus bentuk perlawanan terhadap berbagai peristiwa yang meninggalkan luka bagi para korban. Meski tidak memiliki hubungan langsung dengan para korban pelanggaran HAM, Putra mengaku hal tersebut justru menjadi alasan dirinya terlibat dalam aksi. "Saya memang tidak terkena dampaknya secara langsung. Tapi saya berpikir, bagaimana kalau itu terjadi kepada keluarga saya? Dari situ saya merasa kepedulian tidak harus menunggu kita menjadi korban," tuturnya.
Selain mengangkat isu pelanggaran HAM, Kamisan Bogor juga menyoroti berbagai persoalan lain yang sedang berkembang. Pada aksi yang digelar Kamis (9/7), peserta turut menyuarakan penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang Kepolisian Republik Indonesia (RUU Polri). Sebelumnya, isu konflik agraria, kebijakan publik, hingga persoalan sosial lainnya juga pernah menjadi bagian dari materi aksi. "Isu yang kami angkat tidak hanya HAM. Ketika ada persoalan yang sedang terjadi di negara ini dan berdampak kepada masyarakat, kami ikut menyuarakannya," jelas Putra.
Namun, perjalanan Kamisan di Bogor bukanlah sesuatu yang baru. Jauh sebelum kembali digelar secara rutin, gerakan ini telah tumbuh dari ruang-ruang diskusi yang dibangun mahasiswa. Salah satu pegiat yang mengikuti perkembangan Kamisan sejak awal, Raksa, menceritakan bahwa cikal bakal gerakan tersebut berasal dari Postra (Pojok Sastra), sebuah kelompok kecil yang lahir dari kebiasaan berdiskusi di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), Universitas Pakuan.
Postra awalnya menjadi ruang berkumpul bagi mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada seni dan sastra. Seiring berjalannya waktu, komunitas tersebut berkembang menjadi wadah untuk berdiskusi, berpameran, menggelar aksi teatrikal, hingga membedah buku. Dari ruang sederhana itulah berbagai gagasan mengenai persoalan sosial mulai berkembang. "Kami awalnya hanya nongkrong bersama. Lama-kelamaan berubah menjadi ruang diskusi, kemudian sering membuat aksi teatrikal, pameran, sampai bedah buku," kata Raksa.
Aksi Kamisan yang diinisiasi Postra hanya berlangsung sekitar dua hingga tiga kali pada akhir 2015 hingga awal 2016. Saat itu, aksi digelar di kawasan pedestrian Baranangsiang, dekat pintu masuk Underpass Kebun Raya Bogor. Setelah itu, gerakan dilanjutkan oleh komunitas Bahtera Asmara dan Teras Aksara yang sebelumnya aktif mengadakan perpustakaan jalanan di Kota Bogor. Sejak 2017, aksi kemudian rutin dipusatkan di kawasan Tugu Kujang.
Meski beberapa kali mengalami kevakuman karena berbagai faktor, Raksa menilai kembalinya Kamisan menjadi kabar baik bagi ruang-ruang gerakan masyarakat sipil di Bogor. "Setidaknya masih ada orang-orang yang mau bersusah payah bersuara dan aktif di Kamisan," ujarnya. Menurut Raksa, yang lebih penting adalah menjaga budaya kritis di tengah masyarakat, bentuk gerakannya dapat beragam, tetapi kepedulian terhadap persoalan sosial tidak boleh hilang. "Saya tidak bilang harus Kamisan. Yang perlu ada adalah budaya kritis dan budaya melawan ketidakadilan. Bentuknya bisa apa saja," katanya.
Pandangan serupa juga disampaikan Putra. Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi Kamisan saat ini bukan lagi soal penyelenggaraan aksi, melainkan membangun kesadaran masyarakat terhadap isu-isu di sekitarnya. Ia mengatakan masih banyak warga yang hanya melihat orang-orang berpakaian hitam berdiri di sekitar Tugu Kujang tanpa mengetahui makna yang sedang mereka perjuangkan.
Karena itu, ia berharap Kamisan tidak hanya diikuti oleh orang-orang yang selama ini aktif, tetapi juga menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk belajar dan memahami berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia. "Saya berharap bukan hanya orang yang itu-itu saja yang datang. Semoga semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya dan mau ikut menjaga kepedulian terhadap berbagai persoalan yang masih belum selesai," tutup Putra.
Kehadiran kembali Aksi Kamisan di Kota Bogor tidak hanya menandai berlanjutnya sebuah agenda rutin setiap hari Kamis. Lebih dari itu, aksi ini menjadi pengingat bahwa ruang untuk berdiskusi, mengingat, dan menyuarakan berbagai persoalan publik masih terus dijaga oleh mereka yang percaya bahwa kepedulian masyarakat merupakan bagian penting dalam mewujudkan keadilan.
Peliput: Alfandi Ilham, Bunga Vania
Penulis: Bunga Vania
Editor: M. Habiby Rahmaddani Harahap

0 Komentar