Beranda Pers – Sabtu, 8 Agustus 2026 Masyarakat Desa Sukajaya, kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, menyelenggarakan Acara "Sound Of Solidarity", dibantu oleh Aliansi Sukajaya Melawan dan elemen masyarakat yang tergabung secara kolektif. Kegiatan ini menjadi hiburan sekaligus soft therapy bagi warga, karena menampilkan musik, musikalisasi puisi, tarian, dan kesenian lainnya, untuk meredakan ketakutan dan tekanan yang mereka alami akibat konflik. Dimulai sejak pukul 15.00 sampai 23.40 Waktu Indonesia Barat (WIB).
Kegiatan ini sebagai bentuk perlawanan dan solidaritas bagi masyarakat yang tengah menghadapi konflik agraria. Melalui kegiatan tersebut, mereka mencoba membangun pandangan bahwa perjuangan tidak harus dilakukan dengan ketegangan, tetapi juga dapat dilakukan melalui kegembiraan, kreativitas, dan solidaritas, dengan menjadikan seni dan budaya sebagai instrumen dari perlawanan.
Gito, Aliansi Sukajaya Melawan, menjelaskan, “Karena kita merasa seni dan budaya adalah salah satu elemen perlawanan, yang mungkin paling efektif di hari ini, karena tadi kita coba untuk memberikan cara pandang, bahwa untuk berjuang itu juga harus bergembira, maka kegembiraan dalam perjuangan ini harus kita salurkan sepenuhnya terhadap solidaritas untuk warga-warga yang berjuang di manapun belahan bumi berada, khususnya di Sukajaya,” jelasnya.
Selaras dengan yang diucapkan Afifah, masyarakat Sukajaya, “Sangat membangun semangat perlawanan, kita butuh hal-hal seperti ini, karena membangun trauma healing, banyak masyarakat yang kemarin menangis hari ini bisa sedikit tertawa melihat dukungan teman-teman yang begitu banyak dari berbagai pelosok dan dari berbagai arah,” Ucapnya, dari acara ini masyarakat Sukajaya bisa melihat dukungan dan kepedulian dari berbagai tempat, terhadap masyarakat Sukajaya.
Brahma, masyarakat yang datang dari Jakarta untuk bersolidaritas, “Saya datang untuk bersolidaritas, nggak tega ngeliat kemarin itu, yang kamis kemarin,” pungkasnya, ia juga menambah, “Ini kegiatan solidaritas, bisa digunakan untuk konsolidasi, selain kita berkumpul disini untuk bersama menjaga tanahnya rakyat, walaupun dikatakan tanahnya negara tapi negara ada kan karena rakyat, jadi rakyat harus ada di atas negara. Ini tempat kita berkumpul untuk ngeberesin negara yang sudah kusut,” tambahnya.
Tujuan dari acara tersebut fokus untuk penguatan masyarakat secara horizontal, tidak untuk mencari atensi dari pemerintah, seperti yang dikatakan Gito, “Sebetulnya kita tidak memikirkan atensi dari pemerintah apalagi mengharapkannya. Tujuan dari kita adalah warga bantu warga, rakyat bantu rakyat. Kita akan menguatkan ini secara horizontal kepada sesama dan di sekeliling kita. Kita tidak memikirkan apa yang ada di atas, karena yang di atas pun sampai hari ini belum ada tindakan konkret menyelesaikan persoalan yang ada di Sukajaya,” ujarnya.
Selama pelaksanaan acara tersebut tidak terlepas dari kekhawatiran, karena, Kamis kemarin terjadi benturan cukup panas, kondisi itu membuat masyarakat yang tergabung secara kolektif harus menjalankan kegiatan dengan penuh kewaspadaan, “Kita sempat mengalami bentrokan yang lumayan hebat, kita selalu siaga terhadap kemungkinan yang terjadi, penyerangan yang di lakukan oleh preman yang di bayar, yang kita tidak tahu menyerang kapan, makannya acara ini dilakukan dengan segala kekhawatiran, mungkin selalu jadi pikiran teman-teman ataupun masyarakat,” pungkasnya.
Konflik agraria yang baru terjadi di Sukajaya turut mendorong masyarakat untuk menghadiri dan meramaikan acara tersebut, karena bagi warga, kedatangan masyarakat dari luar menjadi bentuk dukungan moral di tengah situasi yang penuh tekanan. Acara ini tidak hanya menjadi pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, saling menguatkan dan memulihkan diri di tengah konflik agraria. Melalui seni, mereka menunjukkan bahwa solidaritas dapat diwujudkan dengan berbagai cara, termasuk melalui kreativitas dan kegembiraan sebagai bentuk perlawanan.
Peliput: Alfandi Ilham, M. Fatir Rahman, M. Gilar Haekal
Penulis: Alfandi Ilham, M. Fatir Rahman
Editor: M. Habiby Rahmaddani Harahap

0 Komentar