Suasana Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya
Beranda Pers - Budaya literasi di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) masih berjalan melalui pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber referensi dan ruang belajar serta diskusi mahasiswa. Namun, intensitas kunjungan mahasiswa ke perpustakaan dinilai masih perlu ditingkatkan, sebab sebagian besar kunjungan terjadi hanya pada waktu-waktu tertentu, seperti saat menjelang ujian atau saat menulis skripsi.
Penjaga perpustakaan FISIB, Triani, mengatakan bahwa perpustakaan memiliki peran penting dalam mendukung budaya literasi di lingkungan kampus. Selain memfasilitasi mahasiswa melalui penyediaan koleksi buku dan jurnal, perpustakaan juga menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk mengerjakan tugas.
“Perpustakaan berperan sebagai pendukung kegiatan belajar mahasiswa. Kami turut menyediakan beberapa koleksi dan referensi yang dibutuhkan oleh setiap program studi, jika mahasiswa mengajukan buku, kami juga akan mencatat, lalu kami ajukan dan memfasilitasi,” ujarnya.
Menurutnya, jumlah kunjungan mahasiswa dalam beberapa waktu terakhir masih tergolong ramai, tetapi belum merata. Peningkatan pengunjung biasanya terjadi menjelang Evaluasi Tengah Semester (ETS), Evaluasi Akhir Semester (EAS), maupun saat mahasiswa sedang mengerjakan tugas akhir. “Untuk saat ini ramai karena banyak mahasiswa yang sedang mengejar sidang skripsi, karena menjelang ujian juga, jadi saat ini perpustakaan masih ramai pengunjung,” katanya.
Triani menjelaskan bahwa buku yang paling banyak dipinjam dan dicari adalah koleksi yang berkaitan dengan metodologi penelitian. Mahasiswa Sastra Inggris, umumnya mencari novel berbahasa Inggris. Sementara mahasiswa Sastra Indonesia, lebih banyak meminjam karya fiksi dan buku kebahasaan. Adapun mahasiswa Ilmu komunikasi, lebih sering mencari buku terkait manajemen, dan Sastra Jepang, lebih sering mencari teori, budaya serta referensi bahasa.
Sementara itu, Fraditha, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, menilai bahwa perpustakaan memiliki peran penting dalam menunjang kegiatan akademik mahasiswa. "Perpustakaan memiliki banyak buku yang bisa dijadikan referensi untuk mengerjakan tugas maupun proyek Evaluasi Akhir Semester (EAS)," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa perpustakaan memiliki beragam buku yang menarik perhatian dan sedang ia baca sekarang. “Terus juga banyak buku-buku yang bisa dijadikan referensi buat kalian ngerjain tugas, projek EAS,” ujarnya. Meski demikian, Fraditha mengaku dirinya tidak terlalu sering mengunjungi perpustakaan dan biasanya datang hanya ketika membutuhkan referensi tertentu.
Ia mengatakan bahwa terakhir kali mengunjungi perpustakaan adalah pada awal semester dua untuk mencari bahan proyek EAS. "Saya memang jarang ke perpustakaan. Biasanya datang kalau lagi butuh buku untuk tugas atau proyek EAS," tuturnya. Tetapi ia menilai perpustakaan tetap memiliki koleksi buku yang beragam dan menarik untuk dibaca.
Pendapat lain kemudian disampaikan oleh Bintang, mahasiswa Program Studi Sastra Jepang. Menurutnya perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung kegiatan belajar dan meningkatkan budaya literasi mahasiswa.
Ia menilai bahwa keberadaan perpustakaan membantu mahasiswa memperoleh berbagai sumber bacaan yang sesuai dengan kebutuhan akademik masing-masing Program Studi (Prodi). "Perpustakaan berperan penting banget dalam mendukung literasi mahasiswa, karena menyediakan banyak buku yang bermanfaat sesuai kebutuhan program studi," ujarnya.
Bintang mengaku sering mencari dan meminjam buku yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Jepang, khususnya untuk persiapan ujian Japanese Language Proficiency Test (JLPT). Menurutnya, setiap prodi memiliki minat baca yang berbeda-beda sesuai dengan bidang keilmuan yang dipelajari.
Sementara itu, Daffa mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, selain ia menilai keberagaman koleksi buku dan dapat membantu mahasiswa menemukan bacaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. “Tapi ketika lagi sering-seringnya itu ketika gue selalu capek dan perpustakaan itu menurut gue tempat yang cocok untuk healing dan juga tidur di situ sih. Jujur, gue kebanyakan tidur sebenarnya bukan baca. Adem soalnya enak,” tuturnya.
Pendapat yang sama disampaikan Ihsan, mahasiswa Sastra Indonesia. Menurutnya, perpustakaan berperan penting untuk menambah literasi dan ilmu pengetahuan baru. “Perbedaan minat baca pasti ada, bisa dilihat dari Sastra Inggris dan Indonesia. Biasanya Sastra Inggris, lebih sering membaca buku berbahasa Inggris dan Sastra Indonesia, lebih sering membaca buku berbahasa Indonesia,” ujarnya.
Dengan demikian perpustakaan FISIB dinilai memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan belajar dan budaya literasi mahasiswa. Namun, pemanfaatannya masih belum dilakukan secara rutin karena sebagian mahasiswa lebih sering datang ketika membutuhkan referensi untuk tugas, proyek EAS, atau keperluan akademik lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa tantangan budaya literasi di FISIB bukan hanya pada ketersediaan fasilitas, tetapi juga pada kebiasaan mahasiswa dalam memanfaatkannya.
Peliput: Nur Aulia, Septi Aulia
Penulis: Nur Aulia, Septi Aulia
Editor: M. Habiby Rahmaddani Harahap

0 Komentar